Seni Perang Sun Tzu


Dua ribu lima ratus tahun yang lalu dunia digemparkan oleh seorang penulis buku seni perang dari Cina yang tak pernah kalah dalam setiap peperangan yang dipimpinnya. Orang itu bernama Sun Tzu. Di awal bukunya dia menuliskan:Seni perang sangat penting bagi negara. Ini menyangkut masalah hidup atau mati, satu jalan menuju keselamatan atau kehancuran. Jadi dalam keadaan apapun tidak boleh diabaikan.

Sekitar tahun 100 SM., salah satu penulis kronik Sun Tzu, yaitu Su-ma Ch’ien, memberikan biografi berikut:

Sun Tzu, yang nama kecilnya adalah Wu, merupakan penduduk negara Ch’i. Seni perang membuatnya dikenal oleh Ho Lu, Raja Wu. Ho Lu berkata padanya, “Aku telah membaca tiga belas bab yang kau tulis. Bolehkah aku mencoba teori menangani tentara dalam suatu ujian kecil?”

Sun Tzu menjawab, “Silahkan Yang Mulia.”

Sang Raja bertanya, “Bolehkah aku mencobanya pada para wanita?”

Jawaban yang diberikan sama, lalu Raja memerintahkan 180 wanita dari istana untuk mengikuti latihan tersebut. Sun Tzu membagi mereka ke dalam dua kelompok dan menunjuk selir yang paling disukai oleh sang raja sebagai pimpinan dari masing-masing kelompok. Dia lalu memerintahkan mereka untuk mengambil tombak dan mengatakan, “Saya kira kalian sudah tahu perbedaan antara depan, belakang, tangan kanan dan tangan kiri.”

Para wanita tersebut menjawab, “Ya.”

Sun Tzu melanjutkan. “Bila saya mengatakan ‘mata ke depan,’ kalian semua harus melihat ke depan. Bila saya berkata ‘hadap kiri,’ kalian harus menghadap ke kiri. Bila saya berkata ‘hadap kanan,’ kalian harus menghadap ke kanan. Bila saya berkata ‘balik badan,’ kalian semua harus berputar dan menghadap ke belakang,”

Mereka semua menjawab setuju. Setelah kata-kata perintah dijelaskan, dia lalu mengambil tombak dan kapak lalu mengawali latihan. Bersamaan dengan suara genderang, dia memberi perintah, “Hadap kanan!” Namun wanita-wanita tersebut hanya tertawa.

Sun Tzu berkata dengan sabar, “Jika kata-kata perintah yang diberikan tidak jelas, dan perintah tidak dipahami sepenuhnya, maka yang salah adalah panglima.” Dia melatih mereka lagi dan kali ini memberi perintah, “Hadap kiri!” Namun para wanita tersebut sekali lagi tertawa terbahak-bahak.

Kemudian dia berkata, “Jika kata-kata perintah tidak jelas, dan perintah tidak dipahami sepenuhnya, maka yang salah adalah panglima. Namun jika perintah yang diberikan sudah jelas tapi para prajurit tidak mematuhi, maka yang salah adalah pimpinan mereka.” Setelah berkata demikian, dia memerintahkan pimpinan dari kedua kelompok tersebut untuk dipenggal.

Saat itu Raja tengah menyaksikan latihan tersebut dari paviliun, dan saat dia melihat bahwa selirnya akan dipenggal, dia merasa khawatir dan cepat-cepat mengirimkan pesan. “Kami merasa puas dengan kemampuan panglima dalam menangani prajurit. Jika kami harus kehilangan kedua orang tersebut, maka makanan dan minuman kami akan kehilangan citarasanya. Kami berharap mereka tidak perlu dipenggal.

“Sun Tzu menjawab bahkan dengan lebih sabar lagi, “Setelah menerima pengangkatan Yang Mulia sebagai Panglima, ada beberapa perintah tertentu dari Yang Mulia yang dalam hal ini, tidak bisa hamba terima.” Selanjutnya, dia segera memerintahkan kedua pemimpin tersebut untuk dipenggal dan langsung menunjuk dua orang lainnya untuk menggantikan mereka. Setelah selesai, genderang untuk memulai latihan dibunyikan kembali. Para wanita tersebut menjalani semua yang diperintahkan. Hadap kanan atau hadap kiri, maju ke depan atau membentuk lingkaran, berlutut atau berdiri,dengan ketepatan yang sempurna, tanpa mengeluarkan suara apa pun.

Kemudian Sun Tzu mengirim pesan pada Raja dengan mengatakan, “Prajurit Yang Mulia, sekarang telah memperoleh latihan dan disiplin serta siap untuk diinspeksi. Mereka bisa disuruh melakukan apa saja yang dikehendaki oleh Yang Mulia. Perintahkan mereka untuk terjun ke dalam api atau laut, dan mereka akan patuh.”

Namun Sang Raja menjawab, “Anda bisa menghentikan latihan dan kembali ke barak, kami tidak ingin melakukan inspeksi atas para prajurit.”

Selanjutnya Sun Tzu mengatakan dengan tenang, “Raja hanya senang berbicara dan tidak bisa mengubahnya menjadi perbuatan.”

Setelah itu, Raja Wu melihat bahwa Sun Tzu merupakan satu-satunya orang yang tahu bagaimana menangani para prajuritnya,
sehingga mengangkatnya sebagai panglima. Di wilayah barat, Sun Tzu menaklukkan negara Ch’u dan terus bergerak menuju Ying, yang merupakan ibukota negara tersebut; di wilayah utara dia menebar rasa takut di negara Ch’i dan Chin, dan kemasyhurannya dikenal luas oleh para pangeran. Dan Sun Tzu pun ikut menikmati kejayaan kerajaan.

Sun Tzu kemudian menjadi panglima perang bagi Raja Wu. Selama hampir dua dekade, bala tentara Wu terus memperoleh kemenangan atas musuh-musuh bebuyutan mereka, yaitu Kerajaan Yueh dan Ch’u. Suatu ketika dalam periode ini Sun Tzu meninggal, dan pelindungnya, Raja Wu pun tewas dalam perang. Selama beberapa tahun, keturunannya mengikuti ajaran Sun Tzu dan terus memperoleh kemenangan dalam perang. Tapi kemudian mereka melupakannya.

Pada tahun 473 SM., bala tentara Wu kalah dan kerajaan ini hancur.

Kalau mau tahu ajaran ‘Seni Perang’ Sun Tzu selengkapnya, silahkan baca buku ‘the art of war by Sun Tzu’.

Baca buku seni perang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s