Hubungan Antara Pancasila, Zionisme, dan Freemasonry: Tinjauan sejarah dan analisa dampak (Untold Story)

 

TANGGAL 1 Juni disebut-sebut sebagai hari lahirnya Pancasila. Menurut Syafi’i Ma’arif, mantan Ketua PP Muhammadiyah, Pancasila merupakan karya brilian Bung Karno. Benarkah demikian? Hal itu diucapkannya pada sebuah teve swasta dalam acara memperingati Sewindu Reformasi, Mei 2006 silam. Bagaimana Pancasila dapat dikatakan sebagai karya brilian Soekarno yang telah menggali nilai-nilai lokal kemudian diperahnya menjadi lima sila, dan salah satunya berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa, padahal hanya Islam yang Tuhannya Maha Esa. Agama selain Islam yakni Kristen (Protestan dan Katholik), Hindu, Budha dan Kong Hucu (bila diakui sebagai agama), semuanya adalah politheis, tidak Maha Esa.

Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Indonesia bergama Hindu dan animis. Ini adalah fakta sejarah. Lalu darimana dasar berargumen Soekarno yang mengatakan bahwa ia mengambil saripati nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat Nusantara, dan memerahnya menjadi Pancasila. Padahal, animisme tidak ber-Tuhan Yang Maha Esa.

Sepanjang Orde Baru berkuasa, kepada rakyat Indonesia ditanamkan doktrin bahwa Pancasila yang bersumber dari nilai-nilai yang hidup dan berkembang di kalangan rakyat, merupakan ajaran yang tak boleh dibantah.

Doktrin tersebut disosialisasikan pada setiap penataran P-4. Sehingga, kalau ada yang berani mengemukakan wacana lain, pasti akan dilibas habis. Tetapi, setelah Orba ambruk, berbagai teori yang menggugat asal muasal Pancasila yang konon sakti itu, justru banyak bermunculan.

Di antara teori yang muncul itu mengatakan, bahwa sila-sila pada Pancasila ternyata memiliki kemiripan yang tak terbantahkan dengan asas Zionisme dan asas Freemasonry, seperti Monotheisme (Ketuhanan Yang Maha Esa), Nasionalisme (Kebangsaan), Humanisme (Kemanusiaan yang adil dan beradab), Demokrasi (Musyawarah), dan Sosialisme (Keadilan Sosial).

Menurut Abdullah Patani, sang pemilik teori, kesamaan sila-sila pada Pancasila dengan kelima sila pada asas Zionisme dan asas Freemasonry, tidak terjadi secara kebetulan, namun merupakan proses panjang dan sistematis, dimana para tokoh-tokoh penggagas Pancasila (Soekarno, Soepomo, dan M. Yamin) sudah sejak lama menyerap nilai-nilai zionisme dan freemasonry itu. Juga Ki Hajar Dewantara, yang diklaim sebagai bapak pendidikan nasional.

Bahkan Ki Hajar Dewantara sudah memasukkan paham Freemasonry melalui lembaga pendidikan Taman Siswa yang sekuler. Sejak awal Taman Siswa menunjukkan kecenderungan yang sangat antipati terhadap agama Islam. Antara lain, penolakannya untuk memasukkan pendidikan agama ke dalam kurikulum, dan menggantikannya dengan pendidikan budi pekerti.

Soekarno adalah murid -non formal- dari Ki Hajar Dewantara dan A. Baars. Sebagai murid, ia patuh mengikuti teori yang dicanangkan sang guru. Bahkan, A. Baars sebagai guru Soekarno, dikenal sebagai seorang Belanda yang menjadi anggota Partai Komunis pada zaman Semaun. Maka bisa dimengerti, bila Pancasila yang kemudian digagas Soekarno, bagai bersaudara kembar dengan ‘pancasila’ milik kalangan zionis dan freemasonry. Apalagi Soekarno semasa hidup menunjukkan sikap penghargaan yang tinggi terhadap pemikiran Kemal Attaturk, salah seorang anggota freemasonry dari Turki. Bahkan Soekarno cenderung meneladani Kemal di dalam menghadapi Islam, yaitu melakukan tipudaya terhadap rakyat dan ulama Islam.

Karena itu, Pancasila yang digagas Soekarno bersama penyair Soneta Mohamad Yamin dan Soepomo merupakan tipudaya yang sangat nyata. Melalui Pancasila, Soekarno dan tokoh-tokoh nasionalis sekuler ini menciptakan landasan pembenaran untuk menerapkan floatisme (salah satu doktrin freemasonry).

Maksud floatisme pada dasarnya menisbikan nilai-nilai agama, mengambangkan keyakinan umat beragama, dan mendorong pemeluk agama mencari titik persamaan dari agama-agama yang mereka anut. Sehingga yang muncul ke permukaan bukan ajaran murni agama, namun sekedar budi pekerti, atau semacam aliran kepercayaan yang tidak mempunyai syariah meski mengaku bertuhan yang maha esa.

Pada masa Soekarno, terjadi perpindahan agama secara besar-besaran (ribuan orang) dari Islam ke Kristen (Protestan). Padahal seharusnya pemerintah harus mencegah setiap orang yang ingin murtad dari agama islam dengan menerapkan hukuman mati bagi yang murtad dari agama islam.

Selain keberpihakannya kepada kristenisasi, Soekarno juga sangat membela komunis. Soekarno tahu, komunisme tidak bisa subur di Indonesia karena faktor Islam. Karena itu, pertama-tama yang harus dilumpuhkan adalah kekuatan revolusioner yang benar-benar hidup di masyarakat, yaitu kekuatan revolusioner Islam.

Caranya, mengirimkan tokoh-tokoh partai Masyumi dan Syarekat Islam ke dalam penjara. Karena, mereka selama ini telah menjadi kekuatan revolusioner yang paling nyata di dalam menghadapi penjajah Belanda dan Jepang. Bila Belanda dan Jepang bisa dilawan, apalagi cuma komunisme. Langkah Soekarno selanjutnya menerapkan doktrin Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme).

Ketika itu Soekarno berdalih, kita akan berhadapan dengan neo kolonialisme, neo penjajah. Untuk menghadapinya, kalangan Islam harus menjalin kerja sama dengan komunis, sehingga tercipta kekuatan yang besar. Untuk itu konsep Nasakom diperlukan. Ternyata, bahaya neo kolonialisme cuma omong kosong, hanya tipu daya Soekarno. Karena konsep Nasakom sesungguhnya hanya untuk membuat komunisme berkembang semakin pesat.

Sila-sila yang diperkenalkannya itu sama dengan sila-sila yaang pernah disampaikan Mohamad Yamin pada 29 Mei 1945. Dan sila-sila itu mungkin hanya karya contekan dari asas Zionisme dan Freemasonry yang diperolehnya dari berbagai literatur.

Dengan mengintrodusir Pancasila, Soekarno berusaha meredam pertumbuhan kehidupan beragama yang sehat. Sebab Pancasila pada dasarnya hanyalah floatisme yang diterapkan di Indonesia dengan nama lokal. Ketiga, melalui Pancasila Soekarno membawa bangsa Indonesia menerima paham komunis, melalui doktrin Nasakom. Upaya ini akhirnya gagal total. Maka, lahirlah Orde Baru dengan semangat floatisme yang sama.

Sisi Lain Soekarno (Tangis Politis): Dialog Antara Tengku Daud Beureueh dan Presiden Soekarno

Dalam ebook berjudul Doktrin Zionisme dan Ideologi Pancasila: “Menguak Tabir Pemikiran Founding Fathers RI. Editor:Muhamad Thalib dan Irfan Awwas” terekam sebuah dialog antara presiden Soekarno dan Tengku Daud Beureueh yang mengungkapkan pengkhianatan pemerintah Orde Lama kepada rakyat Aceh dan juga menjadi penyebab bergabungnya Aceh sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia pada masa itu.

 

 

Bagian terakhir dari dialog tersebut, selengkapnya adalah sebagai berikut : (1)
Presiden : “Saya minta bantuan kakak, agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan Belanda untuk mempertahankan”.

Daud Beureueh :” Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan presiden, asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama Allah, sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid”

Presiden : ”Kakak! Memang yang saya maksud-kan adalah perang yang seperti telah dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Tengku Tjhik di Tiro dan lain-lain yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang ber-semboyan “merdeka atau syahid”.

Daud Beureueh : ”Kalau begitu kedua pendapat kita telah bertemu Saudara Presiden. Dengan demikian bolehlah saya mohon kepada Saudara Presiden, bahwa apabila perang telah usai nanti, kepada rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan syari’at Islam di dalam daerahnya”.

Presiden : ”Mengenai hal itu kakak tak usah khawatir. Sebab 90% rakyat Indonesia beragama Islam”.

Daud Beureueh : ”Maafkan saya Sudara Presiden, kalau saya terpaksa mengatakan, bahwa hal itu tidak menjadi jaminan bagi kami. Kami meng-inginkan suatu kata ketentuan dari Saudara Presiden”

Presiden : ”Kalau demikian baiklah, saya setujui permintaan kakak itu”.

Daud Beureueh : ”Alhamdulillah, atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan terimakasih banyak atas kebaikan hati Saudara Presiden. Kami mohon, (sambil menyodorkan secarik kertas kepada Soekarno) sudi kiranya Sdr. Presiden menulis sedikit di atas kertas ini”.

Mendengar ucapan Tengku Muhammad Daud Beureueh itu, langsung Presiden Soekarno menangis terisak-isak. Air matanya yang mengalir di pipinya telah membasahi bajunya. Dalam keadaan terisak-isak,
Presiden Soekarno berkata : ”Kakak! Kalau begitu tidak ada gunanya aku menjadi Presiden. Apa gunanya menjadi Presiden kalau tidak dipercaya” .

Tengku Daud Beureueh menjawab : ”Bukan kami tidak percaya, Saudara Presiden. Akan tetapi hanya sekedar menjadi tanda yang akan kami perlihatkan pada rakyat Aceh yang akan kami ajak untuk berperang”.

Presiden Soekarno : (sambil menyeka air matanya, berkata) ”Wallahi, Billahi (2), kepada daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan syari’at Islam. Dan Wallah, saya akan pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar nanti dapat melaksanakan syari’at Islam di dalam daerahnya. Nah, apakah kakak masih ragu-ragu juga?”

Tengku Muhammad Daud Beureueh : ”Saya tidak ragu lagi Saudara Presiden. Sekali lagi atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan hati Saudara Presiden”.

Menurut keterangan Tengku Muhammad Daud Beureueh, oleh karena iba hatinya melihat Presiden menangis terisak-isak, beliau tidak sampai hati lagi meminta jaminan hitam di atas putih atas janji-janji Presiden Soekarno itu.

Dari dialog di atas, kita bisa maklum bahwa, secara historis, dari sejak awal masyarakat Aceh ketika bergabung dengan Indonesia, menginginkan otonomi dengan penerapan hukum Islam. Orang Aceh siap membantu pemerintah Indonesia me-lawan Belanda, dengan suatu syarat, supaya syari’at Islam berlaku sepenuhnya di Aceh. Atau dengan kata lain, masyarakat ingin di Aceh berlaku syari’at Islam dalam bingkai negara Kesatuan RI.

Akan tetapi, meski Soekarno telah berjanji dengan berurai air mata, ternyata ia ingkar dan tidak konsekuen terhadap ucapannya sendiri. Melihat kenyataan ini, suatu hari, dengan suara masygul, Daud Beureueh pernah berkata:”Sudah ratusan tahun syari’at Islam berlaku di Aceh. Tetapi hanya beberapa tahun bergabung dengan RI, sirna hukum Islam di Aceh. Oleh karena itu, saya akan pertaruhkan segalanya demi tegaknya syari’at Islam di Aceh”. Maka sejak itu lahirlah gerakan Darul Islam di Aceh.(3)

Catatan Kaki :
(1) Wawancara dengan Tengku Daud Beureuh, dalam TGK. M. DAUD BEUREUH: Peranannya Dalam Pergolakan di Aceh, oleh M. Nur Elibrahimy, hal. 65, PT. Gunung Agung, Jakarta, Cetakan Kedua, 1982.

(2) Karakteristik orang-orang munafik suka berjanji tapi kemudian mengingkarinya, dan menjadikan sumpah sebagai helah. Allah berfirman: “Mereka menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (orang lain) dari jalan Allah. Sungguh amat buruklah apa yang mereka lakukan. Yang demikian itu karena mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (kembali), lalu hati mereka dikunci (tertutup dari menerima kebenaran). Maka mereka tidak memahami. Dan apabila engkau melihat mereka, engkau akankagum karena tubuh-tubuh mereka (yang tegap dan tampan). Dan apabila mereka berbicara, engkau akan terpaku mendengarkannya. Mereka bagaikan kayu yang tersandar (tidak mempunyai fikiran). Mereka menduka setiap suara keras (panggilan) ditujukan kepada mereka. Merekalah musuh (sejati), maka jauhilah mereka, (waspadalah terhadap mereka). Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dibutakan mata hatinya dari kebenaran).?“, (Q.S. Al Munafiqun: 2-4).

(3) Rubrik Nasional, Mingguan ABADI, No. 37/Th.I, 22-28 Juli 1999.

Mairil: Sepenggal Kisah Biru di Pesantren

Sampul buku mairil

Judul :Mairil,
Sepenggal Kisah
Biru di Pesantren
Penulis :
Syarifuddin
Penerbit : P_Idea,
Jogjakarta
Cetakan 1 : 2005
Tebal : viii + 254

Selama ini dunia pesantren dikenal sangat lekat dengan nuansa agama. Setiap pagi, siang, sore hingga malam hari kegiatan-kegiatan
yang diajarkan di pesantren selalu berkaitan dengan (pendalaman) agama. Ngaji, tadarus, shalat berjamaah adalah beberapa kegiatan
rutin di dalamnya. Namun, siapa yang mengira di balik kentalnya nuansa agama yang ada di pesantren ternyata menyimpan cerita-cerita miris yang sangat bertentangan dengan (doktrin) agama? Buku dengan judul Mairil, Sepenggal Kisah Biru di Pesantren yang ditulis oleh Syarifuddin ini mengungkap secara transparan perilaku-perilaku menyimpang didunia pesantren, terutama yang berkaitan dengan penyimpangan seksual santri.

Ibarat lokalisasi, pesantren sering dijadikan tempat untuk menyalurkan hasrat libido santri pada santri lain. Bedanya, kalau di lokalisasi berlaku hukum pasar, yaitu terjadi transaksi antara penjual dan pembeli. Di pesantren kegiatan itu dilakukan secara
sembunyi-sembunyi dan umumnya dilakukan di tengah malam ketika “korban” sedang tertidur lelap. Yang lebih mencengangkan,
praktik seperti ini dilakukan antar sesama jenis kelamin (laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan). Seks antar sesama jenis kelamin inilah yang menjadi titik tekan buku ini. Di pesantren budaya ini bukanlah hal yang tabu, bahkan sudah mentradisi secara turun-temurun hingga kini. Sehingga sukar menghilangkan budaya itu karena sang pelaku dalam menjalankan aksinya sangat rapi, di luar pengetahuan orang lain. Jangankan orang lain, kadang yang menjadi korban sendiri tidak menyadari kalau dirinya pernah dijadikan pelampiasan nafsu seks orang lain. Biasanya korban baru menyadari kalau dirinya telah menjadi pelampiasan
seksual orang lain ketika bangun tidur. Karena hubungan seks ala pesantren bukan didasarkan suka sama suka tetapi secara sembunyi-sembunyi, ketika korban sudah terlelap. Budaya itu kemudian dikenal dengan istilah nyempet dan mairil.

Menurut penulis, nyempet merupakan jenis atau aktivitas pelampiasan seksual dengan kelamin sejenis yang dilakukan seseorang ketika hasrat seksualnya sedang memuncak, sedangkan mairil merupakan perilaku kasih sayang kepada seseorang yang sejenis (hlm. 25).
Perilaku nyempet terjadi secara insidental dan sesaat, sedangkan mairil relatif stabil dan intensitasnya panjang. Namun dalam banyak hal antara nyempet dan mairil mengandung konotasi negatif, yaitu sama-sama terlibat dalam hubungan seksual satu jenis kelamin.
Kondisi sosiologis dunia pesantren dengan pembinaan moral dan akhlak secara otomatis interaksi antara santri putra dan putri begitu ketat.Keseharian santri dalam komunitas sejenis, mulai bangun tidur, belajar, hingga tidur kembali. Santri bisa bertemu dengan
orang lain jenis ketika sedang mendapat tamu. Itu pun jika masih ada hubungan keluarga. Praktis, ketika ada di pesantren –terutama
pesantren salaf(tradisional)– tidak ada kesempatan untuk bertemu dan bertutur sapa dengan santri beda kelamin. Di samping tempat asrama putra dan putri berbeda, hukuman yang harus dijalankan begitu berat, bisa-bisa dikeluarkan dari pesantren, jika ada santri putra dan putri ketahuan bersama. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan perilaku nyempet di kalangan santri di pesantren begitu marak (hlm. 31).

Perilaku nyempet dan mairil biasnya dilakukan oleh santri tua (senior), tidak jarang pula para pengurus atau guru muda yang belum menikah. Dari hasil penelitian penulis, kegiatan nyempet hanya terjadi ketika masih menetap di pesantren tetapi ketika sudah lulus dari pesantren budaya seperti itu ditinggalkan. Terbukti, kehidupan mereka normal dan tidak ditemukan kasus mereka menjadi homo atau lesbi. Mereka semua berkeluarga dan mempunyai anak. Karena orang yang melakukan itu hanya iseng bukan tergolong homoseksual (bagi kaum laki-laki) atau lesbian (bagi kaum wanita). Mereka melakukan penyimpangan seks itu sekadar menyalurkan libido seksualnya yang memuncak. Umumnya yang menjadi korban nyempet dan mairil adalah santri yang memiliki wajah ganteng, tampan, imut, dan baby face. Hampir pasti santri (baru) yang memiliki wajah baby face selalu menjadi incaran dan rebutan santri-santri senior. Bahkan tidak jarang antara santri yang satu dan santri yang lain terlibat saling jotos, adu mulut,bertengkar (konflik) untuk mendapatkannya. Di pesantren berlaku hukum tidak tertulis yang harus dijalankan bagi orang yang memiliki mairil. Misalnya jika si A sudah menjadi mairil orang, maka si mairil tersebut akan dimanja, diperhatikan, diberi uang jajan, uang makan, dicucikan pakainnya, dan sebagainya; layaknya sepasang kekasih (pacaran). Jika si mairil dekat dengan orang lain pasti orang yang merasa memiliki si mairil tersebut akan cemburu berat.

Kelebihan buku ini adalah penulis mampu menceritakan pelaku nyempet dan mairil dalam suasana santai, kocak, tetapi serius. Gaya penulisanya bertutur hampir menyerupai novel. Misalnya ketika penulis menceritakan tentang santri bernama Subadaryang akan
nyempet santri lain. Di beranda joglo masjid tanpa penerangan lampu, Subadar sambil berpura-pura tidur,terus merangsek mendekati santri yang masih kecil yang beberapa hari terakhir menjadi incarannya. “Harus bisa,” gumam Subadar dalam hati. Namun naas nasibnya kali ini, baru saja mulai angkat sarung korban, tiba-tiba lampu beranda joglo dinyalakan petugas piket yang seketika itu membuat Subadar terkejut bukan kepalang…

Penulis buku ini tentu paham betul tentang budaya nyempet dan mairil yang ada di pesantren. Karena dia juga pernah mengenyam pendidikan di pesantren Wonorejo dan Jombang, Jawa Timur. Boleh dikatakan buku ini adalah hasil temuannya langsung saat dia hidup di dunia pesantren selama kurang lebih enam tahun lamanya.

Membaca buku ini kita akan terkejut dan mengernyitkan dahi, “Ah yang bener aja.” Meski peristiwa yang diceritakan dalam buku ini
lebih mengandalkan inprovisasi penulis, pembaca bisa melacak sendiri bahwa peristiwa seperti ini dalam dunia pesantren,
terutama saat malam menjelang, benar adanya. Atau boleh jadi mereka yang pernah dibesarkan di pesantren akan tersenyum kecut atau mengakui dan menyangkal peristiwa kebenaran cerita ini.

Menikmati Dan Mensyukuri Kehidupan

Sederhana saja Syukuri kehidupan

Indahnya langit senja hari damainya kehidupan sematkan kedamaian di hati. Menjalani kehidupan dengan cara sederhana saja dan mensyukuri anugerah kehidupan yang diberikan oleh Tuhan secara cuma-cuma dan tanpa diminta. Sebatang rokok secangkir kopi menemani dalam tafakkur senja, dialog batin dengan alam semesta. (Kohzam)

Kisah Tiga Jagoan Amerika, Jepang Dan Indonesia

Dikisahkan ada 3 orang jagoan dari negara Jepang, Amerika dan Indonesia.
Ketika mereka bertiga bertemu dan berkumpul, orang Jepang menantang kawan2nya dalam keterampilan memakai senjata.
………
Jepang: “Kawan2..lihatlah permainan samuraiku (sambil memperlihatkan permainan
samurainya..Ciatttt… Lngsung trbunuh lalat yang sedang terbang menjadi 2 bagian)”
Kedua kawannya bertepuk tangan.
………
Amerika: “Sekarang lihat permainanku (sambil mengacungkan pistol dan DOR..DOR..DOR.. Menembak lalat yang sedang terbang menjadi 3 bagian)”.
Jagoan dari Jepang bertepuk tangan dengan kagum..
………
Kini giliran jagoan dari Indonesia yang diwakili javaman alias uwong njowo. Dia menghunuskan keris dengan lemah lembut ketubuh lalat, namun lalat itu tetap terbang…Ngeng…Ngeng…Ngeng….
……..
Koboi amerika dan pendekar samurai jepang itupun langsung jadi bingung kemudian bertanya :”Kenapa lalatnya masih terbang dan tidak mati dengan tubuh terbelah ???”
Indonesia : “Apakah kalian tidak melihat saya baru saja Menyunat lalat itu. Hmmmm….Inilah hebatnya orang indonesia…!!!!”
Jepang + Amerika : “@_@#+???!!”(Malah nemen bingunge…!!!)

…..Hehehe…Hahaha…Wkwkwkwk….

Keris Berdiri Sendiri

Wawancara Dengan Wanita Sukses Penjual Jamu

Wanita penjual jamu keliling yg sangat sukses diwawancarai wartawan.

Wartawan : apa rahasia sukses ibu…?
Wanita : semua atas petunjuk suamiku pak…!!
Wartawan : apa petunjuknya?
Wanita : Setiap bangun pagi aku buka sarung suamiku kalo burungnya menunjuk ke timur aku jualan di timur dan klo burungnya menunjuk ke barat aku jualan dìbarat
Wartawan : oh begitu! lah klo burungnya menununjuk ke atas terus jualannya di mana..???!!!
Wanita : He..he..ya aku libur jualan dulu Pak..!!!

Hehehe….!!!

Aneh Lucu

Seni Perang Sun Tzu

Dua ribu lima ratus tahun yang lalu dunia digemparkan oleh seorang penulis buku seni perang dari Cina yang tak pernah kalah dalam setiap peperangan yang dipimpinnya. Orang itu bernama Sun Tzu. Di awal bukunya dia menuliskan:Seni perang sangat penting bagi negara. Ini menyangkut masalah hidup atau mati, satu jalan menuju keselamatan atau kehancuran. Jadi dalam keadaan apapun tidak boleh diabaikan.

Sekitar tahun 100 SM., salah satu penulis kronik Sun Tzu, yaitu Su-ma Ch’ien, memberikan biografi berikut:

Sun Tzu, yang nama kecilnya adalah Wu, merupakan penduduk negara Ch’i. Seni perang membuatnya dikenal oleh Ho Lu, Raja Wu. Ho Lu berkata padanya, “Aku telah membaca tiga belas bab yang kau tulis. Bolehkah aku mencoba teori menangani tentara dalam suatu ujian kecil?”

Sun Tzu menjawab, “Silahkan Yang Mulia.”

Sang Raja bertanya, “Bolehkah aku mencobanya pada para wanita?”

Jawaban yang diberikan sama, lalu Raja memerintahkan 180 wanita dari istana untuk mengikuti latihan tersebut. Sun Tzu membagi mereka ke dalam dua kelompok dan menunjuk selir yang paling disukai oleh sang raja sebagai pimpinan dari masing-masing kelompok. Dia lalu memerintahkan mereka untuk mengambil tombak dan mengatakan, “Saya kira kalian sudah tahu perbedaan antara depan, belakang, tangan kanan dan tangan kiri.”

Para wanita tersebut menjawab, “Ya.”

Sun Tzu melanjutkan. “Bila saya mengatakan ‘mata ke depan,’ kalian semua harus melihat ke depan. Bila saya berkata ‘hadap kiri,’ kalian harus menghadap ke kiri. Bila saya berkata ‘hadap kanan,’ kalian harus menghadap ke kanan. Bila saya berkata ‘balik badan,’ kalian semua harus berputar dan menghadap ke belakang,”

Mereka semua menjawab setuju. Setelah kata-kata perintah dijelaskan, dia lalu mengambil tombak dan kapak lalu mengawali latihan. Bersamaan dengan suara genderang, dia memberi perintah, “Hadap kanan!” Namun wanita-wanita tersebut hanya tertawa.

Sun Tzu berkata dengan sabar, “Jika kata-kata perintah yang diberikan tidak jelas, dan perintah tidak dipahami sepenuhnya, maka yang salah adalah panglima.” Dia melatih mereka lagi dan kali ini memberi perintah, “Hadap kiri!” Namun para wanita tersebut sekali lagi tertawa terbahak-bahak.

Kemudian dia berkata, “Jika kata-kata perintah tidak jelas, dan perintah tidak dipahami sepenuhnya, maka yang salah adalah panglima. Namun jika perintah yang diberikan sudah jelas tapi para prajurit tidak mematuhi, maka yang salah adalah pimpinan mereka.” Setelah berkata demikian, dia memerintahkan pimpinan dari kedua kelompok tersebut untuk dipenggal.

Saat itu Raja tengah menyaksikan latihan tersebut dari paviliun, dan saat dia melihat bahwa selirnya akan dipenggal, dia merasa khawatir dan cepat-cepat mengirimkan pesan. “Kami merasa puas dengan kemampuan panglima dalam menangani prajurit. Jika kami harus kehilangan kedua orang tersebut, maka makanan dan minuman kami akan kehilangan citarasanya. Kami berharap mereka tidak perlu dipenggal.

“Sun Tzu menjawab bahkan dengan lebih sabar lagi, “Setelah menerima pengangkatan Yang Mulia sebagai Panglima, ada beberapa perintah tertentu dari Yang Mulia yang dalam hal ini, tidak bisa hamba terima.” Selanjutnya, dia segera memerintahkan kedua pemimpin tersebut untuk dipenggal dan langsung menunjuk dua orang lainnya untuk menggantikan mereka. Setelah selesai, genderang untuk memulai latihan dibunyikan kembali. Para wanita tersebut menjalani semua yang diperintahkan. Hadap kanan atau hadap kiri, maju ke depan atau membentuk lingkaran, berlutut atau berdiri,dengan ketepatan yang sempurna, tanpa mengeluarkan suara apa pun.

Kemudian Sun Tzu mengirim pesan pada Raja dengan mengatakan, “Prajurit Yang Mulia, sekarang telah memperoleh latihan dan disiplin serta siap untuk diinspeksi. Mereka bisa disuruh melakukan apa saja yang dikehendaki oleh Yang Mulia. Perintahkan mereka untuk terjun ke dalam api atau laut, dan mereka akan patuh.”

Namun Sang Raja menjawab, “Anda bisa menghentikan latihan dan kembali ke barak, kami tidak ingin melakukan inspeksi atas para prajurit.”

Selanjutnya Sun Tzu mengatakan dengan tenang, “Raja hanya senang berbicara dan tidak bisa mengubahnya menjadi perbuatan.”

Setelah itu, Raja Wu melihat bahwa Sun Tzu merupakan satu-satunya orang yang tahu bagaimana menangani para prajuritnya,
sehingga mengangkatnya sebagai panglima. Di wilayah barat, Sun Tzu menaklukkan negara Ch’u dan terus bergerak menuju Ying, yang merupakan ibukota negara tersebut; di wilayah utara dia menebar rasa takut di negara Ch’i dan Chin, dan kemasyhurannya dikenal luas oleh para pangeran. Dan Sun Tzu pun ikut menikmati kejayaan kerajaan.

Sun Tzu kemudian menjadi panglima perang bagi Raja Wu. Selama hampir dua dekade, bala tentara Wu terus memperoleh kemenangan atas musuh-musuh bebuyutan mereka, yaitu Kerajaan Yueh dan Ch’u. Suatu ketika dalam periode ini Sun Tzu meninggal, dan pelindungnya, Raja Wu pun tewas dalam perang. Selama beberapa tahun, keturunannya mengikuti ajaran Sun Tzu dan terus memperoleh kemenangan dalam perang. Tapi kemudian mereka melupakannya.

Pada tahun 473 SM., bala tentara Wu kalah dan kerajaan ini hancur.

Kalau mau tahu ajaran ‘Seni Perang’ Sun Tzu selengkapnya, silahkan baca buku ‘the art of war by Sun Tzu’.

Baca buku seni perang